Jangan Terperdaya Manfaat Coklat

Senin, 03 Februari 2020

Ungkapkan rasa kasih sayang pada pasangan Kamu dengan memberbagi hadiah coklat (gifts chocolates). Ada juga yang memberbagi kue coklat. Tidak hanya lezat, cokelat terbukti dikenal bermanfat untuk kesehatan.

Jangan Terperdaya Manfaat Coklat

Telah tak sedikit penelitian yang membuktikan bahwa coklat mempunyai khasiat untuk kesehatan. Zat bio-aktifnya berupa anti oksidan terbukti diyakini berguna dari segi medis, dan dengan cara psikologis mengkonsumsi coklat pun bisa memunculkan rasa enjoy.

Tetapi begitu jangan hingga terperdaya dengan khasiat dari makanan manis nan lezat ini. Ada baiknya mempertimbangkan lagi alias pun lebih bijak memilih produk coklat, apakah itu kue coklat, coklat murni, dsb sebab bukan mustahil Kamu justru bakal mendapat kemenyesalannya ketimbang kegunaaan yang diinginkan dari makanan ini.

Pentingnya untuk mempertimbangkan lagi coklat sebagai kudapan timbul seusai suatu  jurnal kesehatan ternama dalam edisi terakhirnya menyebutkan bahwa khasiat coklat saat ini telah tak sedikit “disalahgunakan”. Apalagi dengan tak sedikitnya cafe coklat (cafe chocolates) terus membikin orang-orang "membabi buta" kepada coklat.

Adalah jurnal Lancet yang mengabarkan bahwa tak sedikit produsen coklat saat ini justru menghapus kandungan flavanols sebab rasanya yang pahit. Walhasil, tak sedikit produk coklat yang beredar di pasaran saat ini hanya didominasi lemak dan gula saja. Padahal kedua zat ini justru adalah musuh bagi jantung dan pembuluh darah. Sehingga hadiah coklat (chocolate gift) Kamu bisa sehingga tergolong ke dalamnya.

Tidak sedikit riset yang menyebutkan bahwa mengkonsumsi coklat bisa mengurangi risiko penyakit jantung, menurunkan tekanan darah dan menghapus capek. Tetapi menurut postingan yang ditulis dalam jurnal Lancet, coklat justru bisa memperdaya. Sehingga hati-hati dalam menjadikan coklat sebagai chocolate gift.

“Ketika perusahaan coklat membikin gula-gula, bahan coklat alamiah padat yang membikin warna menjadi lebih hitam dan flavanols yang rasanya pahit, justru dihilangkan. Oleh sebab itulah, coklat yang terkesan hitam pun bisa sehingga tak mengandung flavanol.

Konsumen juga rutin dibangun buta dengan kandungan flavanol dalam coklat sebab produsen jarang memberi keterangan tentang info ini dalam produknya,” tulis Lancet.

Jurnal tersebut juga menekankan bahwa meskipun flavanols terkandung dalam suatu  produk coklat, para penggemar coklat wajib masih mewaspadai zat alias kandungan lainnya. Sehingga berhati-hatilah umpama saat Kamu berada di cafe chocolates / cafe chocolate.
Share on :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2015. bibliotropic.net.
Design by Herdiansyah Hamzah. Published by Themes Paper. Powered by Blogger.
Creative Commons License